03 Juni 2009

sejarah ponpes DU


  • Periode Klasik (antara tahun 1885 - 1937 M)
    Periode ini merupakan masa - masa pembibitan dan penanaman dasar-dasar berdirinya pondok pesantren. Pemimpin pertama yang mendirikan pendidikan ini, yaitu KH. Tamim Irsyad dibantu KH. Cholil sebagai mitra kerja dan sekaligus menjadi menantunya.Beliau menanamkan jiwa Islam yang diaktualkan dalam bentuk sikap dan juga ....detail
  • Periode pertengahan (antara tahun 1937 - 1958 M)
    Pondok pesantren yang telah berdiri bagai batu karang di laut, tetap tegar walau ombak menghempas datang. Ditengah-tengah gelombang juang bangsa Indonesia meneriakkan kata merdeka pada saat itulah generasi muda meledakkan dadanya dalam bentuk koperasi, gerakan politik, maupun bentuk yang lain....detail
  • Periode Baru Fase Pertama (1958 - 1985)
    Sepeninggalan kedua tokoh tersebut, pondok pesantren Darul 'Ulum mengalami kesenjangan kepemimpinan, terutama dalam bidang thareqat dan pengajian ilmu Al-Qur'an dengan segala ilmu bantuanya.Kejadian ini dapat dimaklumi karena dua tokoh yang telah tiada tersebut merupakan tokoh besar,serta piawai dalam bidangnya ..... detail.
  • Periode Baru Fase Kedua (1985 - 1993)
    Perkembangan Kelembagaan Darul 'Ulum pada fase ini mengalami perubahan dan kernajuan sesuai dengan tuntutan mana­gerial yang dikehendaki oleh kernajuan kelembagaan Darul 'Ulum Perkembangan itu bisa dilihat di bawah ini. ...detail

02 Juni 2009



Sejarah perkembangan MTsN Tambakberas Jombang







Kota Jombang merupakan basis dari pondok pesantren. Hal tersebut dapat diketahui dengan adanya berbagai pondok pesantren yang tumbuh dan berkembang dengan pesat. Salah satu dari pesantren tersebut adalah Pondok Pesantren Bahrul Ulum. Bahrul Ulum merupakan pemberian nama oleh KH. Abdul Wahab Hasbullah tahun 1967. Pada tahun 1969, ketika Menteri Agama waktu itu KH. M. Dahlan berkunjung ke Tambakberas telah disepakati bersama antara KH. Abdul Wahab dan KH. M. Dahlan untuk mendirikan madrasah. Secara resmi Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Tambakberas Jombang dibuka pada tanggal 4 Maret 1969 sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Menteri Agama RI No. 23 Tahun 1969 dengan nama Madrasah Tsanawiyah Agama Islam Negeri (MTsAIN) Tambakberas Jombang. Pada saat itu keberadaan MTsN masih bergabung dengan Muallimin dengan masa pendidikan selama 6 tahun, yaitu :

1. Kelas I, II dan III Mualimin menjadi MTs.AIN (Madrasah Tsanawiyah Agama Islam Negeri).

2. Kelas IV, V dan VI Mualimin menjadi MAAIN (Madrasah Aliyah Agama Islam Negeri).

Pada saat diresmikannya Muallimin menjadi MTs.AIN jumlah kelasnya sudah lengkap yaitu 3 (tiga) kelas dengan jumlah siswa 191 orang, sedang untuk siswa putri pada saat itu belum ada. Pendaftaran siswa putri dibuka pada tahun ajaran berikutnya, tahun 1973. Pembukaan pendaftaran siswa putri tidak mengalami hambatan, karena kelas I Muallimin telah siap menerima lulusan siswa kelas VI MI Bahrul Ulum 1972 untuk tahun ajaran 1972. Dan kedua madrasah tersebut sama-sama masih eksis serta sama-sama berkembang pesat sampai sekarang.

Sejak didirikan hingga menjadi MTsN, Lembaga ini sudah lima kali mengalami pergantian kepala madrasah, namun selalu terus mengalami kemajuan dan perkembangan. Masyarakat dan orang tua yang tergabung dalam BP 3 diwakili oleh pengurusnya selalu berperan aktif sebagaimana fungsinya memberikan kontribusi dalam memajukan madrasah.

Di bawah ini periodisasi kepemimpinan MTsN Tambakberas Jombang dengan segala upayanya:

A. Periode Pertama

Kepala Madrasah : Drs. H. M. Syamsul Huda As.SH, M.Hi

Masa Jabatan : Tahun 1969 s/d 1980

Alih tugas pada periode pertama terjadi pada tanggal 1 Oktober 1980. Pada saat alih tugas tersebut siswa MTs. AIN Tambakberas berjumlah 334 orang. Pada periode pertama ini program dari kepala madrasah adalah menegerikan madrasah. Untuk menegerikan madrasah, dibutuhkan tenaga guru dan pegawai yang profesional serta menata organisasi madrasah. Pada masa tersebut gedung dari madrasah masih meminjam pada Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum.

B. Periode Kedua

Kepala Madrasah : KH. Ach. Fatih AR (Alm.)

Masa Jabatan : Tahun 1980 s/d 1993

Periode kedua ini KH. Ach. Fatih mempunyai program, yaitu meningkatkan mutu SDM guru dan pegawainya. Kemudian meningkatkan kualitas dan kuantitas siswa. Karena gedung sekolah masih meminjam gedung Yayasan Bahrul ‘Ulum yang ada di sebelah timur jalan raya, maka pada periode ini merintis dan mengusulkan proyek pengadaan tanah dan gedung seperti Aula Putra dan lapangan basket.

C. Periode Ke Tiga

Kepala Madrasah : Drs. KH. Amanullah AR (Alm)

Masa Jabatan : Tahun 1993 s/d 1998

Sebagai upaya untuk meningkatkan kinerja dan manajemen MTsN, maka selain melanjutkan program-program yang telah dirintis oleh dua Kepala Madrasah sebelumnya, maka hal pertama yang dilakukan oleh beliau adalah membangun gedung bertingkat yang difungsikan sebagai kantor Madrasah dan ruang laboratorium untuk pengembangan siswa dan siswi.

Seiring dengan semakin meningkatnya jumlah siswa-siswi MTsN, maka upaya menambah gedung dan sarana prasarana madrasah menjadi suatu kebutuhan yang tidak bisa dielakkan lagi. Untuk itulah maka dilakukan beberapa program sebagai berikut :

  1. Pengadaan dan pembelian tanah di Tambakberas Timur
  2. Pembangunan 15 ( lima belas ) ruang belajar siswa putra
  3. Pembangunan gedung kantor kepala madrasah, kantor TU, staf pimpinan dan karyawan
  4. Pembangunan ruang / kantor guru
  5. Pembangunan gedung bertingkat untuk aula putra, perpustakaan , Laboratorium Bahasa dan Laboratorium IPA
  6. Pembangunan lapangan basket

Sejak periode inilah siswa putra dipindahkan dari MTs N Barat ke MTsN timur. Sedangkan untuk siswi putri untuk sementara masih menempati gedung barat.

D. Periode Ke Empat

Kepala Madrasah : Drs. K. H. Ach. Hasan, M.PdI.

Masa Jabatan : Tahun 1999 s/d 2008

Program pada periode ke empat ini kepala madrasah sudah mulai memfungsikan gedung baru (proyek pemerintah) secara maksimal serta melengkapi sarana-sarana penunjang lainnya. Sedangkan untuk lebih meningkatkan kualitas dan kuantitas siswa maka pada periode ini program yang dilaksanakan adalah :

a. Pengadaan tanah lokasi siswa putri secara swadaya dengan luas 2.275 m2.

b. Pembangunan gedung lokal belajar siswa putri secara swadaya 20 lokal dan sarana penunjang yang lain

c. Peningkatan mutu proses belajar mengajar dan melengkapi perangkat lunak.

d. Mengembangkan dan meningkatkan kegiatan ekstra kurikuler.

e. Menciptakan lingkungan dan suasana belajar yang nyaman dan tenaga pendidik yang profesional dan penuh kasih sayang.

f. Manajemen yang kokoh dan berkesinambungan.

g. Mengantarkan peserta didik menyongsong sukses dan masa yang cemerlang.

Pada periode ini peningkatan di segala aspek telah dilaksanakan oleh MTsN Tambakberas, sebagai usaha untuk mengembangkan madrasah untuk menghasilkan out put yang berkualitas. Berbagai peningkatan tersebut adalah kurikulum, sarana prasarana, serta kualitas dari guru sebagai media transformasi ilmu. Pengembangan aspek kognitif, psikomotorik dan afektif yang ada pada siswa juga tidak terlepas dari usaha untuk mengembangkan dan menghasilkan out put yang seimbang, yaitu siswa yang berimtaq dan mempunyai kemampuan IPTEK.

Optimalisasi dalam meningkatkan eksistensi MTsN Tambakberas merupakan usaha dalam mewujudkan visi dan misi yang telah menjadi pedoman. Adapun visi, misi dan tujuan MTsN Tambakberas Jombang adalah sebagaimana tertera dalam Renstra Tahap III.

Aplikasi dan Visi yang ada di MTsN adalah sholeh, cerdas, cakap, IMTAQ dan IPTEK. Siswa MTsN diharapkan menjadi anak yang sholeh, memiliki pemikiran yang cerdas dan cakap, beriman dan bertaqwa pada Allah SWT serta menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sesuai dengan kemajuan zaman yang berbasis keterampilan bahasa. Nilai MTsN adalah keikhlasan, kejujuran, kebersamaan, dinamis dan kreatif. Siswa MTsN diharapkan memiliki jiwa yang sesuai dengan nilai tersebut sebagai modal dasar dalam mengembangkan diri di lingkungannya

Seiring dengan upaya-upaya peningkatan kualitas pembelajaran baik kepada siswa maupun tenaga edukatif, MTsN Tambakberas juga melakukan pembenahan dan melengkapi sarana prasarana penunjang. Pada tahun 2003-2004 telah berhasil menyelesaikan bangunan 2 (dua) lantai dari Imbal Swadaya untuk Ruang Komputer dan Ruang Guru Putra juga pembangunan musholla dan ruang laboratorium bahasa, pemugaran lapangan olah raga puteri, pembuatan green house 4 (empat) unit, pembenahan instalasi listrik aula putera dan perbaikan lapangan basket.

E. Periode Ke Lima

Kepala Madrasah : Drs. H. Anshori

Masa Jabatan : Tahun 2008 s/d sekarang

Pada saat buku profil ini disusun, periode kepemimpinan Drs. H. Anshori baru berjalan satu semester yaitu mulai akhir September 2008. Sesuai dengan Renstra ke III MTsN Tambakberas yang berorientasi pada peningkatan mutu pendidikan, maka program yang direncanakan antara lain:

a. Penguasaan siswa-siswi terhadap bahasa Arab dan Inggris

b. Upaya peningkatan kualitas akhlak, sikap dan amaliah keislaman yang berasaskan pada aqidah ahlussunnah wal jama’ah

c. Pembiasaan membaca surat-surat pendek (Juz ‘Amma) pada pagi hari sebelum proses belajar mengajar dimulai.

d. Peningkatan kesadaran dan kepedulian warga MTsN terhadap kebersihan, kesehatan dan keindahan lingkungan

e. Pemenuhan sarana prasarana untuk peningkatan teknologi informatika (pengadaan jaringan internet, Website) dan radio UKS

f. Peningkatan mutu guru dan karyawan melalui pelatihan-pelatihan dan peningkatan pendidikan guru ke jenjang yang lebih tinggi.

g. Peningkatan mutu siswa melalui :

- Program Email Exchange dengan Australia (satu-satunya MTsN di Indonesia yang mengikuti program ini).

- Pembinaan mengikuti olimpiade materi UAN

01 Juni 2009

sejarah pencak silat pagar nusa NU


GUS MAKSUM
Sang Pendekar Pagar Nusa

Pondok Pesantren dulunya tidak hanya mengajarkan ilmu agama dalam pengertian formal-akademis seperti sekarang ini, semisal ilmu tafsir, fikih, tasawuf, nahwu-shorof, sejarah Islam dan seterusnya. Pondok pesantren juga berfungsi sebagai padepokan, tempat para santri belajar ilmu kanuragan dan kebatinan agar kelak menjadi pendakwah yang tangguh, tegar dan tahan uji. Para kiainya tidak hanya alim tetapi juga sakti. Para kiai dulu adalah pendekar pilih tanding.

Akan tetapi belakangan ada tanda-tanda surutnya ilmu bela diri di pesantren. Berkembangnya sistem klasikal dengan materi yang padat, ditambah eforia pembentukan standar pendidikan nasional membuat definisi pesantren kian menyempit, melulu sebagai lembaga pendidikan formal.

Para ulama-pendekar merasa gelisah. H Suharbillah, seorang pendekar dari Surabaya yang gemar berorganisasi menemui KH Mustofa Bisri dari Rembang dan menceritakan kekhawatiran para pendekar. Mereka lalu bertemu dengan KH Agus Maksum Jauhari Lirboyo alias Gus Maksum yang memang sudah masyhur di bidang beladiri. Nama Gus Maksum memang selalu identik dengan “dunia persilatan”.

Pada tanggal 12 Muharrom 1406 M bertepatan tanggal 27 September 1985 berkumpulah mereka di pondok pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, untuk membentuk suatu wadah di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) yang khusus mengurus pencak silat. Musyawarah tersebut dihadiri tokoh-tokoh pencak silat dari daerah Jombang, Ponorogo, Pasuruan, Nganjuk, Kediri, serta Cirebon, bahkan dari pulau Kalimantan pun datang.

Musyawarah berikutnya diadakan pada tanggal 3 Januari 1986, di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur, tempat berdiam Sang Pendekar, Gus Maksum. Dalam musyawarah tersebut disepakati pembentukan organisasi pencak silat NU bernama Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama “Pagar Nusa” yang merupakan kepanjangan dari “Pagarnya NU dan Bangsa.” Kontan para musyawirin pun menunjuk Gus Maksum sebagai ketua umumnya. Pengukuhan Gus Maksum sebagai ketua umum Pagar Nusa itu dilakukan oleh Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid dan Rais Aam KH Ahmad Sidiq.

Gus Maksum lahir di Kanigoro, Kras, Kediri, pada tanggal 8 Agustus 1944, salah seorang cucu pendiri Pondok Pesantren Lirboyo KH Manaf Abdul Karim. Semasa kecil ia belajar kepada orang tuanya KH Abdullah Jauhari di Kanigoro. Ia menempuh pendidikan di SD Kanigoro (1957) lalu melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Lirboyo, namun tidak sampai tamat. Selebihnya, ia lebih senang mengembara ke berbagai daerah untuk berguru ilmu silat, tenaga dalam, pengobatan dan kejadukan (Dalam “Antologi NU” terbitan LTN-Khalista Surabaya).

Sebagai seorang kiai, Gus Maksum berprilaku nyeleneh menurut adat kebiasaan orang pesantren. Penampilannya nyentrik. Dia berambut gondrong, jengot dan kumis lebat, kain sarungnya hampir mendekati lutut, selalu memakai bakiak. Lalu, seperti kebiasaan orang-orang “jadug” di pesantren, Gus Maksum tidak pernah makan nasi alias ngerowot. Uniknya lagi, dia suka memelihara binatang yang tidak umum. Hingga masa tuanya Gus Maksum memelihara beberapa jenis binatang seperti berbagai jenis ular dan unggas, buaya, kera, orangutan dan sejenisnya.

Dikalangan masyarakat umum, Gus Maksum dikenal sakti mandaraguna. Rambutnya tak mempan dipotong (konon hanya ibundanya yang bisa mencukur rambut Gus Maksum), mulutnya bisa menyemburkan api, punya kekuatan tenaga dalam luar biasa dan mampu mengangkat beban seberat apapun, mampu menaklukkan jin, kebal senjata tajam, tak mempan disantet, dan seterusnya. Di setiap medan laga (dalam dunia persilatan juga dikenal istilah sabung) tak ada yang mungkin berani berhadapan dengan Gus Maksum, dan kehadirannya membuat para pendekar aliran hitam gelagapan. Kharisma Gus Maksum cukup untuk membangkitkan semangat pengembangan ilmu kanuragan di pesantren melalui Pagar Nusa.

Sebagai jenderal utama “pagar NU dan pagar bangsaGus Maksum selalu sejalur dengan garis politik Nahdlatul Ulama, namun dia tak pernah terlibat politik praktis, tak kenal dualisme atau dwifungsi. Saat kondisi politik memaksa warga NU berkonfrontasi dengan PKI Gus Maksum menjadi komandan penumpasan PKI beserta antek-anteknya di wilayah Jawa Timur, terutama karesidenan Kediri. Ketika NU bergabung ke dalam PPP maupun ketika PBNU mendeklarasikan PKB, Gus Maksum selalu menjadi jurkam nasional yang menggetarkan podium. Namun dirinya tidak pernah mau menduduki jabatan legislatif ataupun eksekutif. Pendekar ya pendekar! Gus Maksum wafat di Kanigoro pada 21 Januari 2003 lalu dan dimakamkan di pemakaman keluarga Pesantren Lirboyo dengan meninggalkan semangat dan keberanian yang luar biasa.

sejarah Ponpes Bumi Damai Al Muhibbin


PP. Bumi Damai Al Muhibbin adalah salah satu unit dari Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang yang didirikan oleh KH. Moh. Djamaluddin Ahmad, beliau adalah salah satu menantu dari alm. KH. Abdul Fattah Hasyim, pendiri Madrasah Mu’allimin Mu’allimat Atas. Pada awalnya dengan bermodalkan sebidang tanah pemberian dari mertua, beliau membangun rumah yang cukup sederhana dan sebuah kamar di bagian depan.

Selang beberapa waktu mulai datang santri yang berkeinginan untuk ikut mengabdi pada beliau, dan lama kelamaan kamar tersebut tidak lagi cukup menampung para santri, untuk itu beliau membuat local kecil dengan ukuran 4 x 6 m2. Seiring dengan bertambah pesatnya jumlah santri Pondok Pesantren Bahrul Ulum, semakin banyak pula santri yang nyantri pada KH.M. Djamaluddin Ahmad, dan dalam waktu singkat kamar yang ada tridak dapat mampu lagi menampung santri, untuk itu beliau membangun asrama dengan membuat dua lokal diatas rumah beliau dan satu lokal di lantai bawah, dan mulai saat itulah beliau memberi nama asrama ini dengan nama "Al Muhibbin".

Karena lokasi yang ada di lingkungan Pondok Induk Bahrul Ulum dirasa sempit sehingga tidak memungkinkan lagi untuk mengembangkan asrama guna menampung jumlah santri yang semakin lama semakin bertambah maka KH. M. Djamaluddin Ahmad beserta Ibu Nyai Hj. Churriyah mencoba mengembangkan Al Muhibbin dengan membeli sebidang tanah yang berada + 500 meter di sebelah selatan pondok Induk Bahrul ulum dengan luas + 1 hektar.

Pada tahun 1992 M dimulailah pembangunan pondok Pesantren Al Muhibbin di lokasi yang baru dengan mendirikan sebuah masjid dengan ukuran 25 x 25 m2 sembilan buah kamar untuk domisili para santri. Pada tahun 1994 M, tepatnya tanggal 28 Rojab 1415 H Al Muhibbin diresmikan dilokasi yang baru, dan diberi nama "Bumi Damai Al Muhibbin".

sejarah ponpes Tebuireng Jombang


Tebuireng, nama sebuah dusun kecil di tepi jalan raya Jombang-Kediri, delapan kilometer arah selatan kota Jombang. Legenda masyarakat setempat menyebutkan, bahwa nama Tebuireng berasal dari kebo ireng. Bermula dari suatu peristiwa bahwa di antara penduduk dusun ada yang memiliki kerbau berkulit kuning (bule). Suatu hari kerbau itu menghilang, setelah dicari kesana kemari barulah senja hari ditemukan terperosok di rawa-rawa. Seluruh kulitnya dipenuli binatang lintah sehingga terlihat hitam. Hal itu sangat mengejutkan bagi pemilik kerbau sehingga dia berteriak, “kebo ireng”. Maka kebo ireng menjadi sebutan bagi dusun kecil itu.
Riwayat lain menyebutkan, kebo ireng berasal dari nama seorang punggawa kerajaan Majapahit yang masuk Islam dan kemudian tinggal di daerah Jombang. Konon, keluarga pesantren Tebuireng dengan punggawa tersebut memiliki pertalian darah. Dalam perkembangan selanjutnya, nama kebo ireng berubah menjadi Tebuireng.

Berdirinya Pesantren

Pondok Pesantren Tebuireng sendiri didirikan oleh KHM. Hasyim Asy’ari tahun 1899 M, dan mendapat pengakuan dari pemerintah Hindia Belanda pada 16 Rabiul Awwal 1324 H / 6 Februari 1899 M. Kyai Hasyim lahir di Pesantren Gedang, arah utara kota Jombang pada 26 Dzul Qo’dah 1287 H / 14 Februari 1871 M dari hasil perkawinan antara K. Asy’ari dengan Halimah. Beliau adalah seorang ulama’ besar yang telah lama belajar dan mendalami ilmu agama baik di dalam maupun luar negeri. Jiwanya merasa terpanggil untuk memperbaiki masyarakat tempat tinggalnya yang sedang dilanda berbagai krisis kehidupan, Kyai Hasyim mendirikan Pondok Pesantren yang berperan sebagai pusat pendidikan dan penyiaran agama Islam.
Dalam Mewujudkan cita-citanya, Kyai Hasyim memiliki suatu pedoman, “Menyiarkan agama Islam artinya memperbaiki manusia. Jika manusia itu sudah baik, maka akan banyak menghasilkan berbagai kebaikan yang lain. Berjihad artinya menghadapi kesukaran dan memberikan pengorbanan, contoh-contoh ini telah diberikan oleh nabi kita dalam perjuangannya”.
Selanjutnya, Kyai Hasyim membeli tanah seluas 200 m2 di Tebuireng milik seorang dalang terkenal. Di atas tanah tersebut didirikan pondok, yang hanya berupa bedeng berbentuk bujur sangkar, di sekat menjadi dua ruangan. Bagian belakang sebagai tempat tinggal Kyai dan keluarganya, sedangkan yang lain untuk tempat sholat dan belajar para santri yang berjumlah 28 orang. Fasilitas yang sangat sederhana tidak mengurangi semangat Kyai Hasyim dalam membimbintg para santri untuk menuntut ilmu dalam bentuk pengajian kitab-kitab agama.
Berdirinya pesantren Tebuireng kurang mendapat perhatian dari masyarakat sekitarnya, dan bahkan menumbuhkan rasa kebencian, sehingga muncul gangguan dari masyarakat yang harus dihadapi oleh Kyai Hasyim. Meskipun rintangan yang menghadang amat berat, namun Kyai Hasyim dan para santrinya mampu mengatasinya.
Hidup dalam pemerintah kolonial membuat Kyai Hasyim berprinsip ‘berdikari’, artinya tidak menggantungkan diri atau minta bantuan kepada orang lain yang tidak seirama dan seagama. Dengan semangat berkorban da penuh pengabdian, beliau terus membina Pondok Pesantren Tebuireng hingga berkembang menjadi lembaga pendidikan Islam yang besar. Prinsip yang dikembangkan adalah mengutamakan kepentingan pesantren daripada kepentingan diri sendiri. Karena itulah, dari sisi ekonomi beliau tetap memiliki usaha di luar pesantren, yang di waktu senggang di sela-sela mengajar Kyai Hasyim menyempatkan diri mengerjakan sawah pertanian dan juga melakukan perdagangan keluar daerah.
Pengembangan Pesantren

Sistem Pendidikan
Pendidikan semula berlangsung secara sorogan (santri membaca, guru menyimak) dan bandongan (guru membaca, santri menyimak). Sejak tahun 1916 mulai dirintis pendidikan dalam bentuk klasikal, meskipun masih sangat sederhana. Baru pada tahun 1926 pendidikan banyak mengalami penyempurnaan baik kurikulum maupun metodenya, termasuk tambahan pelajaran umum yang meliputi bahasa Indonesia, Ilmu Bumi dan Berhitung.
Untuk meningkatkan pendidikan di Tebuireng, Kyai Hasyim menunjuk Abdul Wahid Hasyim (putra) dan Moh. Ilyas (santri), -sebelumnya telah diutus untuk belajar di Makkah- untuk mengembangkan pendidikan di Tebuireng. Kesempatan baik ini, dimanfaatkan oleh mereka berdua untuk mengadakan pembaharuan dalam tiga bidang yakni:

  • Memperluas pengetahuan para santri
  • Memasukkan pengetahuan modern ke dalam kurikulum madrasah
  • Meningkatkan sistem pengajaran bahasa Arab secara aktif

Sebagai langkah pembaharuan, tahun 1934 Abdul Wahid Hasyim merintis Madrasah Nidhomiyah yang banyak menyajikan pelajaran umum dan ditunjang dengan memasukkan surat kabar, majalah, buku-buku pengetahuan umum yang berbahasa Indonesia, Arab dan Inggris. Perkembangan sistem pendidikan ini tidak meninggalkan pola pengajaran khas pondok pesantren yaitu pengajian kitab klasik (kuning).
Usaha pembaharuan ini memang tidak menampak hasil nyata dalam waktu dekat. Namun saat penjajahan Jepang diberlakukan larangan surat menyurat selain dengan huruf latin, hal itu tidak menimbulkan masalah bagi santri Tebuireng. Dengan modal mempelajari pengetahuan umum di Tebuireng, banyak alumni Tebuireng dengan cepat mampu menguasai keadaan untuk menolong umat Islam yang terjajah. Misalnya di bidang politik menjadi anggota ‘sangi kay’ (DPR tingkat Karesidenan), menguasai sentra-sentra ekonomi, bahkan pasca kemerdekaan banyak yang menduduki jabatan kepala di suata jawatan.
Model pendidikan ini olah Abdul Wahid Hasyim disebut ‘da’wah dari dasar’. Dengan demikian gerakan bagi pembaharuan pendidikan Islam, pemahaman kehidupan agama dan gerakan sosial, terpadu dalam misi Pondok Pesantren Tebuireng. Akibat dari aktivitas Tebuireng ini tidak hanya dirasakan oleh santri-santrinya, tetapi juga oleh masyarakat muslim di luar Pondok Pesantren. Tujuan pendidikan yang dirintis oleh Abdul Wahid Hasyim ini adalah untuk mensejajarkan derajat dan martabat santri dengan pelajar-pelajar dari Barat.
Pada 25 Juli 1947 Kyai Hasyim dipanggil menghadap Allah SWT. Jabatan pengasuh digantikan oleh putranya sendiri, KH. Abdul Wahid Hasyim yang memgang jabatan hingga tahun 1950. Ketika beliau diangkat menjadi menteri agama RI dalam kabinet RIS, kedudukan sebagai pengasuh digantikan KH. Baidlowi, menantu Kyai Hasyim. Berturut-turut wewenang pengasuh diemban oleh KH. Abdul Karim Hasyim dan kemudian oleh KH. Abdul Kholiq Hasyim yang saat itu telah non-aktif sebagai seorang senior Divisi Brawijaya.
Saat kepemimpinan KH. Abdul Kholiq ini Madrasah Nidhomiyah berganti nama menjadi Madrasah Salafiyah Syafi’iyah. Perubahan nama ini sebenarnya diakibatkan oleh perubahan dalam approuch terhadap pemberian ajaran agama yang melebar, dengan memiliki jenjang pendidikan dasar, lanjutan pertama dan lanjutan atas. Karena masih merupakan sebuah percobaan, pada masa 10 tahun pertama konsep salafiyah ini masih mengalami perubahan bentuk dan nama berkali-kali, seperti wustho, mu’alimin dan lain sebagainya.
Lambat laun sistem salafiyah ini menetap dalam bentuk yang baku, yaitu 6 tahun pendidikan dasar (ibtida’iyah), dan 3 tahun lanjutan atas (aliyah), dengan komposisi 65% mata pelajaran agama dan 35% mata pelajaran umum. Pada tahun 1965 q KH. Abdul Kholiq wafat, sedangkan kakak beliau KH. A. Wahid Hasyim telah mendahuluinya pada tahun 1953 dan kemudian menyusul KH. Abdul Karim Hasyim tahun 1973 di tanah suci Mekkah.
Kedudukan selanjutnya dipegang KHM. Yusuf Hasyim yang telah menjadi pengasuh dari tahun 1965 hingga tahun 2006 dan beberapa bulan sebelum beliau meninggal posisi pengasuh dipegang KH. Ir. Solahuddin Wahid putra dari KH. A. Wahid Hasyim hingga kini.
Di samping itu salah seorang menantu Kyai Hasyim yaitu Kyai Idris Kamali, secara tekun memimpin pengajian agama dalam bentuk pengajian sorogan sejak tahun 1950 an hingga tahun 1972, ketika beliau berangkat ke tanah suci untuk menetap di sana hingga beberapa waktu dan akhirnya wafat pada tahun 1986 di Cirebon.

31 Mei 2009

sejarah...


Sejarah Pondok pesantren al falah ploso kediri

Berawal dari keinginan mengamalkan ilmu pengetahuan agama yang didapatkannya dari kota Makkah al-Mukarromah, KH. Ahmad Djazuli Usman merintis berdirinya sebuah pondok pesantren. Bersama dengan Muhammad Qomar, salah seorang santrinya, ia merintis berdirinya pesantren dengan cara yang sangat sederhana. Ia memulainya dengan sebuah pengajian, yang ia rintis sejak masih berada di desa Karangkates.

Pengajian tersebut, dia mulai pertengahan 1924 dengan menggunakan sistem sorogan. Ketika pengajian baru dimulai hanya ada 12 orang santri yang mengikutinya. Namun tak lama kemudian, jumlah santri yang ingin mengaji semakin bertambah. Sehingga setengah tahun kemudian, tepatnya 1 Januari 1925, KH. A. Djazuli Usman mendirikan sebuah madrasah dan pondok pesantren. Ia memanfaatkan serambi Masjid untuk kegiatan belajar mengajar para santri.

Tanpa terasa santri yang belajar dengan KH. A.Djazuli membengkak menjadi 100 orang. Sebuah kenaiban pun, ia pakai sebagai tempat belajar. Cuma yang menjadi persoalan, seiring dengan semakin bertambahnya santri, fasilitas kenaiban tersebut tak bisa lama-lama ia pakai sebagai tempat belajar para santri. Aparat kantor kenaiban sering terganggu dengan aktifitas para santri. Untuk itu, pada tahun 1939 beliau segera membangun asrama santri yang sekarang bernama komplek A, sebuah asrama berlantai dua yang dilengkapi dengan musholla. Seirama
dengan pergantian pemerintah penjajah dari Belanda ke Jepang, juga membawa suasana kelabu bagi pondok pesantren ini. Tentara Jepang sangat mencurigai kegiatan pondok pesaantren. Gerak gerik kiainya mereka awasi. Pengajian berlangsung dalam suasana tidak bebas. Kalaupun dilaksanakan secara sembunyi-sembunyi pada malam hari. Kondisi demikian diperburuk dengan masuknya agresi Belanda kesatu pada tanggal 18 September 1948. Para santri yang memiliki semangat jihad, terlibat pertempuran untuk mengusir Belanda. Mereka bahu mebahu dengan TNI. Operasional pondok pesantren tersebut kembali normal, setelah agresi Belanda berlalu. Setelah dua tahun vakum, kehadiran pondok pesantren bagai gayung bersambut. Kehadiran Pondok Pesantren Al-Falah mengisi kekosongan pendidikan yang hancur lebur karena pertempuran. Simpati warga Kediri mereka tunjukkan dengan mengirm anak-anaknya “nyantri” di pesantren KH. A. Djazuli.

Program Pendidikan.
Program pendidikan dan pengajaran di ponpes Al-Falah, terdiri dari: Madrasah Ibtidaiyah (3 tahun), Madrasah Tsanawiyah (4 tahun) , dan Majelis Musyawarah Riyadlotut Tholabah (5 tahun).

Pada tingkat Ibtidaiyah materi yang banyak ditekankan adalah masalah akidah dan akhlak, sedangkan untuk tingkat Tsanawiyah ditekankan pada materi ilmu nahwu / sharaf dan ditambah ilmu fiqih, faroidl serta balaghah. Adapun Majelis Musyawarah merupakan kegiatan kajian kitab fiqih, yakni Fathul Qorib, selama satu tahun, Kitab Fathul Mu’in selama 1 tahun dan Fathul Wahab selama 3 tahun.

Selain program diatas masih ada kegiatan ekstra yang harus diikuti oleh semua santri, meliputi latihan berorganisasi, baca tahlil, muhafadhah, dibaiyah, kaligrafi dll. Juga ada kegiatan bahtsul masail. Program yang terakhir ini adalah sebagai wahana untuk melatih dan mencetak kader-kader syuriyah dan tem bahtsul bahsul masail. Dari majelis musyawarah ini telah terlahir kader-kader syuriyah NU di bidang bahtsul masail yang handal, diantaranya KH. Ardani Ahmad, KH. Arsyad, KH. Fanani. Mereka direkrut sebagai anggota lajnah bahtsul masail PWNU Jawa Timur. Dan masih banyak alumni yang lain yang berkcimpung di dunia organisasi NU dalam bidang yang lain.Untuk menunjang kelancaran kegiatan belajar mengajar di pesantren yang mengasuh santri hampir 2000 ini hanya mengandalkan darim iuran santri atau SPP yang besarnya uang pangkal Rp. 10.000,- SPP Rp. 5.000,- dan iuran lainnya Rp. 10.000,-

Kaderisasi
Kalau sering didengar banyak pondok pesantren mati dan tidak santrinya akibat tidak adanya penerus, maka untuk pesantren yang bangunannya terkesan mewah ini insya’allah tidak akan terjadi, sebab sebagai pengasuh KH. Zainuddin Djazuli sudah menyiapkan putra-putranya dengan mengirimkan keberbagai pondok pesantren. Seperti Gus Zidni, alumni pesantren Lirboyo dll. (m. muslih albaroni)

30 Mei 2009

Ponpes Lirboyo Kediri


Sejarah Ponpes Lirboyo Kediri:

Sejarah berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo erat sekali hubungannya dengan awal mula KH. Abdul Karim menetap di Desa Lirboyo sekitar tahun 1910 M. setelah kelahiran putri pertama beliau yang bernama Hannah dari perkawinannya dengan Nyai Khodijah (Dlomroh), putri Kyai Sholeh Banjarmelati.

Perpindahan KH. Abdul Karim ke desa Lirboyo dilatarbelakangi atas dorongan dari mertuanya sendiri yang pada waktu itu menjadi seorang da’i, karena Kyai Sholeh berharap dengan menetapnya KH. Abdul Karim di Lirboyo agama Islam lebih syi’ar dimana-mana. Disamping itu, juga atas permohonan kepala desa Lirboyo kepada Kyai Sholeh untuk berkenan menempatkan salahsatu menantunya (Kyai Abdul Karim) di desa Lirboyo. Dengan hal ini diharapkan Lirboyo yang semula angker dan rawan kejahatan menjadi sebuah desa yang aman dan tentram.

Betul juga, harapan kepala desa menjadi kenyataan. Konon ketika pertama kali kyai Abdul Karim menetap di Lirboyo, tanah tersebut diadzani, saat itu juga semalaman penduduk Lirboyo tidak bisa tidur karena perpindahan makhluk halus yang lari tunggang langgang

Tiga puluh lima hari setelah menempati tanah tersebut, beliau mendirikan surau mungil nan sederhana.


SEJARAH BERDIRINYA MADRASAH HIDAYATUL MUBTADI-IEN

PONDOK PESANTREN LIRBOYO KOTA KEDIRI

Sistem pendidikan dan pengajaran di Pondok Pesantren Lirboyo, yang dikenal selama ini adalah sistem Klasikal dan sistem Klasik (bandongan, sorogan dan wethon). Sistem klasik diajarkan di Pondok Pesantren Lirboyo sebelum berdirinya Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien tepatnya sejak berdirinya Pondok Pesantren Lirboyo, yaitu 1910 Masehi. Sementara sistem klasikal dimulai sejak berdirinya Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien tahun 1925 Masehi hingga sekarang.

Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien berdiri bermula dari gagasan Jamhari seorang santri senior asal Kaliwungu Kendal Jawa Tengah. Gagasan tersebut dilaksanakan setelah mendapat restu dari Romo KH. Abdul Karim, kemuadian diikuti oleh Mas Syamsi asal Gurah Kediri dan Mas Syamsi orang yang pertama memasang papan tulis disetiap kelas sebagai sarana untuk menulis dan menerangkan pelajaran. Dan saat itu secara resmi, Madrasah yang baru lahir itu diberi nama “Hidayatul Mubtadi-ien

Berdirinya Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien ini sangat direstuhi oleh Pendiri Pondok Pesantren Lirboyo, Hadrotus Syaikh Romo KH. Abdul Karim, sehingga beliau dawuh kepada semua santri “ SANTRI-SANTRI KANG DURUNG BISO MOCO LAN NULIS KUDU SEKOLAH “ (para snatri yang belum bisa membaca dan menulis harus mengikuti sekolah).

Tujuan berdirinya Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien

1. Dengan adanya sistem yang sederhana (klasikal) dapat meningkatkan mutu pendidikan.

2. Menyesuaikan pada tingkat kebutuhan dan kemampuan para santri.

3. Lebih intensif dalam mendidik dan membentuk kepribadian santri.

Kendala-kendala dalam tahun-tahun pertama

Dalam tahun pertama berdiri Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien ternyata mengalamai banyak kendala yang menyebabkan keadaan makin lama makin memburuk Karena pada waktu itu kurang berminatnya santri untuk memasuki pendidikan Madarasah karena madrasah merupakan sistem pendidikan yang masih asing, akhirnya setelah berjalan kurang lebih enam tahun Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien mengalami kevakuman ditengah jalan.

Meskipun demikian, jangka waktu selama 6 tahun terhitung sejak tahun 1925 sampai tahun 1931 itu menghasilkan beberapa pengalaman yang cukup berharga yaitu :

1. Madrasah sudah terbagi menjadi bebrapa lokal

2. Beberapa guru dan pembimbing diantara Ustadz Sanusi (dari bangil) Ustadz Syairozi ( dari Perak) Kyai Bahri (dari kediri) dan lain-lain

Setalah mandek selama dua tahun tepatnya tahun 1931 M. sampai tahun 1933M. KH. Jauhari menantu Hadrotus Syaikh Romo KH. Abdul Karim bersama kepala Pondok pesantren Lirboyo yang kala itu dijabat Oleh K. Kholil asal Melikan Kediri serta KH. Faqih Asy’ari asal Sumber Pare Kediri menghidupkan kembali Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien. Dan madrasah dibuka kembali pada malam Rabu bulan Muharrom 1353 H. yang bertepatan dengan tahun 1933 M. Dan saat itu setiap siswa ditarik sumbangan 5 Sen setiap bulan.

Perlu diketahui, bahwa Madrasah pada masa itu masuk malam hari yaitu ba’dal Maghrib dan dibagi dalam 8 (delapan) kelas, 3 kelas untuk Sifir (persiapan), yang terdiri dari Sifir Awal, Sifir Tsany dan Sifir Tsalis. Sedangkan 5 kelas dipergunakan untuk tingkat Ibtidaiyyah yang terdiri dari kelas I, kelasII, kelas III, kelas IV, dan kelas V kelas.

Sedangkan kurikulum yang diajarkan pada tingkat sifir adalah mata pelajaran dasar semacam pelajaran menulis huruf Arab ( Khoth) pelajaran membaca Al-qur’an, tajwid dan pelajaran Fiqh ibadah tahap permulaan. Sedangkan untuk kelas yang lebih tinggi, pelajarannya pun ditingkatkan sesuai dengan tingkatan kelasnya, dan untuk tingkatan yang paling tinggi pelajaran ketika itu adalah Al Jauharul Maknun.

Pada dasarnya Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien semenjak berdirinya memberikan porsi lebih banyak untuk mata pelajaran Ilmu Nahwu dan shorof , sehingga menjadi ciri khas tersendiri bagi Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien.